25 Apr 2020

Blog 101 - Apa Yang Brand Harapkan Saat Mengajak Blogger Bekerja Sama? (Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD)

Cara blogger bisa diajak kerja sama Brand
Hai hai~~ Biasanya aku buat review, kali ini aku mau membahas tentang topik yang sering banget di-kepo-in para blogger terutama beauty blogger. Kalau kamu juga berprofesi sebagai beauty blogger terutama yang sudah pernah mendapat project review dari brand, pernah nggak sih bertanya-tanya “kok dia dapet paid review? Kok aku enggak?” atau waktu ditanya temen “loh kamu kok dapet paid projectnya brand A? kok bisa?”. Pertanyaan ini juga udah lama ada di otakku. Pertanyaanku terjawab setelah aku join Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD “What Does Beauty Brand Expect When Hiring A Blogger” dengan Erny Kurnia. Erny ini blogger dari blog Erny's Journal yang niche-nya lifestyle dan beauty. Dia juga teman beauty blogger-ku yang sudah lama kukenal. Sekarang Erny bekerja sebagai manager dari sebuah beauty brand di Indonesia. Berdasarkan pengalamannya meng-handle brand beauty, di kesempatan Ngopi Cantik Beautiesquad Erny berbagi informasi tentang apa yang sebenarnya brand harapkan dari mengajak blogger bekerja sama. Karena topiknya sangat penting untuk blogger terutama beauty blogger supaya tahu bagaimana bekerja sama dengan brand kedepannya, di artikel ini aku akan share poin-poin yang di-share Erny di Ngopi Cantik Beautiesquad kemarin. Blog post ini bakal panjang banget, please enjoy yah!

Cara blogger bisa diajak kerja sama Brand

Dari Ngopi Cantik Beautiesquad, Erny menyampaikan beberapa poin yang aku rangkum sebagai berikut: 



"Apa tujuan brand mengajak kerja sama Blogger?"

1. Meningkatkan backlink ke official website brand. 
Kalau produk suatu brand direview oleh blogger, biasanya orang jadi penasaran dan yang perlu dikunjungi adalah website brand karena deskripsi produk, warna, dan harga produk bisa dilihat disana. Ini bisa meningkatkan brand value dalam jangka panjang karena pengaruhnya ke ke DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) website brand. 

2. Meningkatkan SEO brand di mesin pencari Google. 
Selain backlink, DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) juga berkaitan dengan SEO. DA dan PA ini merupakan penanda seberapa berkualitas website atau blog. Semakin bagus SEO-nya, semakin bagus juga kemampuan website terindeks oleh Google. 

3. Meningkatkan awareness tentang brand dan produk yang sedang dipromosikan.
Ketika produk suatu brand yang direview, secara otomatis calon konsumen yang membaca review produk tersebut akan mengenal brand dan tertarik untuk melihat-lihat koleksi produk lainnya. 

4. Memberikan banyak opsi review ke calon customer. 
Ketika review dibuat oleh banyak blogger, hasil review yang didapatkan pembaca bisa beragam. Karena jenis kulit dan orang berbeda, performa produk juga bisa berbeda. Contohnya kayak jenis kulitku yang kombinasi sensitif belum tentu hasilnya sama dengan review blogger lain yang kulitnya oily ataupun dry. Semakin banyak opsi review, pembaca jadi bisa mengira-ngira produk itu akan cocok di kulitnya atau nggak. 



"Sekarang kan tren-nya Instagram dan Youtube, apa masih ada kemungkinan brand mengajak blogger bekerja sama?" 

Ngaku deh, kalau kamu seorang blogger pasti terpikir dengan hal ini kan? Erny sebagai orang yang bekerja di brand berkomentar kalau blogger tetap dibutuhkan. Beda platform tujuan dan potensial customernya juga beda. Kembali lagi ke brand tersebut menginginkan target marketing seperti apa. Kalau buat aku pribadi, blog punya poin plus sendiri karena kita bisa membaca review lebih detail dan nggak memakan kuota sebanyak buka Instagram atau Youtube. 



"Apa saja kriteria blogger yang akan dipilih untuk bekerja sama oleh brand?"

1. Blogger harus punya platform TLD (Top Level Domain) dengan DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) yang baik.
Blog ber-platform TLD adalah blog yang linknya berakhiran .com , .co.id , .net , .org dan dll. Sedangkan blog non-TLD adalah blog yang linknya punya embel-embel seperti blogspot.com , wordpress.com , dll. Kenapa sih blog TLD penting banget buat brand? Tujuan utama brand adalah meningkatkan SEO website brand kan. Kalau blognya non-TLD dan DA/PA-nya rendah, kemampuan terindeks Google nggak bisa sebagus blog yang sudah TLD dan DA/PA tinggi. Blog sengan standar DA/PA minimal 12/20 yang biasanya dicari. Maka dari itu, kalau kamu pengen membuat blogmu lebih profesional di mata pembaca dan brand, ada baiknya beli domain TLD. Tempat untuk membeli domain yang murah sudah banyak. Biaya pendaftaran dan maintainnya juga relatif terjangkau. Kamu bisa search. Aku yakin kamu banyak menemukan artikel tentang ini dimana tempat membeli domain yang oke di Google. 

2. Blogger mempunyai personal branding yang kuat.
Pembaca biasanya akan lebih sering mengunjungi blog yang punya personal branding. Jadi personal branding itu apa sih? Personal branding adalah kualitas yang ditunjukkan. Menurutku ini pemahamannya luas banget. Bisa jadi ciri khas, gaya penulisan, pokoknya apa yang membuat kamu menonjol sebagai blogger. Ada baiknya personal branding antara blog dan sosial media selaras karena 2 media ini saling mendukung satu sama lain. Nah berdasarkan pengalaman Erny meng-handle brand beauty, brand selalu mengutamakan keamanan produk dan ingin mengedukasi calon customer. Maka dari itu, blogger yang diajak kerja sama adalah yang HARUS nggak pernah mereview produk abal-abal/ KW. Nggak terbatas di produk beauty aja, tapi juga apapun yang ditampilkan di blog atau sosial medianya seperti produk fashion, sepatu, dll. Menurutku poin ini penting banget untuk blogger karena citra blog/ sosial media yang mereview barang KW bisa dibilang sudah nggak kredibel lagi. 

3. Blogger yang dipilih harus cantik dan putih, ya nggak dong!
Kulit orang Indonesia warnanya beragam kan ya. Warna kulit nggak bisa dijadikan patokan. Menurut Erny, tiap brand punya spesifikasi sendiri. Namun biasanya kriteria utamanya adalah blogger harus bisa sharing knowledge dengan jelas ke pembaca tentang produk yang dipromosikan, apapun warna kulitnya

4. Blogger harus menyertakan visual yang representatif dan berkualitas baik sebagai pendukung tulisan.
Selain foto, tema blog sangat diperhatikan oleh brand. Kalau aku pribadi sebagai pembaca, aku suka mengunjungi blog yang fotonya jelas, tema blognya simpel, clear, nggak banyak embel-embel dan tulisannya nyaman dibaca. Tema blog juga bisa mencerminkan karakter pemilik blog. Bisa berpengaruh ke personal branding juga. 

5. Blogger yang diajak kerja sama harus kuat di sosial media dan punya follower besar, belum tentu!
Menurut Erny, sosial media milik blogger harus kuat secara branding namun nggak harus selebgram. Ini tergantung goals dari brand-nya. Kalau brand spesifikasinya pengen level makro mungkin selebgram dengan follower tinggi dibutuhkan. Tapi nggak semua brand memilih yang followernya banyak untuk diajak kerja sama. Blogger dengan follower sedikit pun berpeluang diajak kerja sama asal punya personal branding dan kontennya baik. Keaktifan di sosial media juga bisa membuat brand memperhatikan kamu dan berpeluang buat dilirik. Jadi nggak usah sampai dibelain beli likes atau follower ya. Useless. Brand lebih fokus ke hasil konten. Erny juga menambahkan kalau POD itu ternyata nggak bagus untuk performa sosial media loh. Brand lebih suka dengan engagement yang natural dan real. 



"Sebenarnya apa yang brand harapkan dari blogger yang diajak bekerja sama sehingga terbuka kemungkinan bekerja sama kembali?"

Blogger bisa menyampaikan informasi terkait produk yang direview dengan penulisan yang jelas.
Review harus ditulis dengan cara penulisan yang jelas mulai dari deskripsi produk, ingredients, feel saat digunakan, hingga kelebihan dan kekurangannya. Jangan berbelit-belit padahal intinya 1 kalimat dipanjangin jadi 1 paragraf akhirnya membuat pembaca bingung. Penggunaan tanda baca juga penting. Biasanya brand akan membantu blogger dalam tata cara penulisan review dengan memberikan brief/ guideline. Meskipun ada brief, usahakan selalu membuat honest review. Terkadang ada brand yang nggak mau disebutkan kekurangan produknya, namun ada juga yang membebaskan blogger berpendapat seperti apa. Walaupun nggak semua brand ingin produknya yang direview dibahas kekurangannya secara gamblang, seenggaknya kasih penjelasan kenapa kamu kurang puas dengan produk tersebut. Nah ini sering jadi perhatianku sebagai penulis dan pembaca. Sering banget aku menemukan review dengan tulisan “aku nggak suka produknya” atau “teksturnya jelek” tiba-tiba the end. Singkat, padat, tapi nggak jelas. Menurutku ini nggak informatif. Minimal kasih informasi apa yang membuat produk tersebut kurang puas bagi kamu. Ada baiknya pemilihan kata-katanya juga nggak kasar, misalnya “Menurut aku produk ini kurang sesuai buat aku karena A, B, C”. Pakai bahasa yang sopan, nggak men-judge dan netral akan lebih dihargai pembaca dan brand. Toh pengalaman yang kamu dapat dengan produk itu belum tentu sama di orang lain. Personal branding-mu juga nggak akan jatuh karena sepotong kalimat. 

Blogger memberikan kualitas foto yang baik.
Foto bisa diambil dari kamera atau handphone asal dengan kualitas yang baik, representatif, dan nggak buram, terutama untuk review berbayar. Misalnya mereview lipstick lebih baik disertai foto swatch di bibir karena tujuan lipstick dibuat kan untuk bibir bukan untuk tangan. Kalau kamu beli lipstick karena tertarik sama warna swatch tangan ternyata di bibir warnanya nggak sesuai ekspektasi, terus kamu nggak puas gitu gimana rasanya? Aku pernah kesel gara-gara salah beli shade lipstick karena berpatok ke review lipstick yang cuma swatch di tangan. Ini juga merupakan tanggung jawab blogger untuk memberikan informasi tentang produk sejelas mungkin ke pembaca baik berupa tulisan maupun visual. 

Terjalin simbiosis mutualisme antara brand dan blogger
Brand butuh direview produknya dan blogger butuh konten untuk dipublish. Karena sama-sama punya kepentingan, diharapkan brand dan blogger bisa bekerja secara profesional. Ikuti brief yang diberikan brand dengan baik. Kalau brand puas dengan review kita, siapa tahu brand akan mengajak bekerja sama lagi kedepannya, ya nggak? 

Bisa menjalin hubungan profesional antara brand dan blogger.
Bersikap profesional penting banget karena menyangkut image blogger di mata brand. Jangan sampai ada salah paham. Jika mengalami suatu hal yang berpotensi membuat kamu atau brand nggak senang misalnya produknya menimbulkan masalah di kulit kamu atau fee-nya nggak sesuai bisa dikomunikasikan baik-baik lewat e-mail atau chat pribadi. Aku pernah menemukan kasus blogger/ influencer yang dengan sengaja menulis hate speech tentang brand di sosial media atau dengan sengaja memprovokasi brand di grup project yang berisi banyak blogger/ influencer lain. Ini sangat nggak etis di mata brand. Selain dianggap nggak profesional, ini bisa berimbas ke pencemaran nama baik atau kamu bisa dijadikan black list brand. Kalau sudah jadi black list efeknya nggak main-main. Brand pasti punya channel yang luas ke brand-brand lain begitupun blogger. Blogger di Indonesia kebanyakan saling mengenal walaupun beda daerah. Salah-salah bisa berimbas nama baik kamu tercoreng dan susah dapat project. Ini berlaku juga untuk mem-preloved PR gift. Memang itu hak blogger sih kalau mau preloved, kecuali brand-nya yang nggak memperbolehkan PR guft-nya di-preloved atau giveaway. Tapi nggak etis juga kan kalau setelah selesai direview langsung di-preloved. Reviewnya bilang cocok masa langsung dijual? Minim tunggu 3 bulan supaya pembaca nggak rancu dengan review produk yang kamu buat. Kecuali kamu punya produk double sih sah-sah aja mau dijual hehe. 

Membantu brand meningkatkan brand value dan branding position.
Branding position ini berkaitan erat dengan personal branding blogger. Kalau kita selalu mereview produk yang aman, original dan membuat review yang baik, citra brand yang bekerja sama dengan kita juga ikut baik. Kalau brand mengajak blogger yang suka mereview produk KW atau asal-asalan, secara tidak langsung brand tersebut citranya juga akan tercoreng. 



"Lalu, bagaimana brand menilai rate card blogger?"

Menurut Erny, rate card ini sendiri nggak ada standarnya. Rate card blogger nggak bisa dibilang kemahalan atau kemurahan karena brand punya standar masing-masing. Rate card yang ideal dengan standar brand lah yang diajak kerja sama. Biasanya hal yang dinilai brand terhadap rate card adalah dari personal branding, performa blog/ channelnya, kualitas konten (meliputi cara penulisan dan visual), dan seberapa banyak detail brief yang dibuat brand. Brand mengharapkan hasil review blogger sesuai dengan fee yang dibayarkan. Kalau ada paid review dengan brief rumit, blogger yang dibayar harus bisa memenuhi. Dan kalau brand nggak mau bayar alias cuma kasih produk ya logikanya brand nggak bisa banyak mau juga. 





Itu dia hasil rangkuman Ngopi Cantik Beautiesquad with Erny. Menurut kamu gimana penjelasannya? Sudah menjawab pertanyaan kamu belum? Dari informasi yang Erny kasih sebagai orang yang bekerja di brand beauty, kita jadi tahu apa sebenarnya yang diharapkan brand saat mengajak blogger untuk bekerja sama. Kalau seperti ini, blogger bisa dianggap profesi karena melibatkan sikap profesional di dalamnya. Tanggung jawab ke brand dan pembaca juga besar. Setelah membaca Blog 101 “What Does Beauty Brand Expect When Hiring A Blogger” Ngopi Cantik BEAUTIESQUAD with Erny Kurnia, aku harap kamu yang membacanya bisa menemukan titik terang dan mendapat petunjuk bagaimana cara blogger bisa diajak bekerja sama oleh brand sekaligus meningkatkan performa blog kamu. Semoga artikelnya bermanfaat ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. ^^


2 komentar:

  1. Wah jadi gitu ya petunjuk bagaimana cara blogger bisa diajak bekerja sama oleh brand 👏 keren tipsnya

    BalasHapus
  2. nambah ilmu lagi 😄😄😄

    BalasHapus


© Copyrighted and Designed by . All rights reserved.